Minggu, 01 November 2015

Sumber dan Berhentinya Penderitaan yang Tampak

Pada suatu kesempatan Bhagava tengah berdiam di sebuah kota kaum Malla yang bernama Uruvelakappa. Lalu Bhadraka si Penghulu mendekati Bhagava, bersujud kepada-Nya, duduk di satu sisi, lalu berkata kepada-Nya: "Alangkah baiknya, Bhante, jika Bhagava bersedia mengajarkan kepada saya sumber serta berhentinya penderitaan."
"Penghulu, jika saya mengajarkan kepada Anda sumber serta berhentinya penderitaan dengan rujukan terhadap masa kebingungan dan ketidakpastian mengenai hal itu bisa timbul dalam diri Anda. Dan jika Saya mengajarkan kepada Anda mengenai sumber dan berhentinya penderitaan dengan rujukan terhadap masa mendatang dengan berkata  'Seperti demikianlah pada masa mendatang.' kebingungan dan ketidakpastian mengenai hal itu bisa timbul daram diri Anda. Sebaliknya, Penghulu, selagi Saya duduk di sini, dan Anda tengah duduk di sana, Saya akan ajarkan kepada Anda mengenai sumber dan berhentinya penderitaan. Dengarkan dan perhatikanlah dengan saksama, Saya akan berbicara.'
"Baiklah, Bhate," jawab Bhadraka. Bhagava mengatakan hal ini:
"Bagaimana menurut Anda, Penghulu? Apakah ada orang di Uruvelakappa yang jika dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, maka akan timbul kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan dalam diri Anda?"
"Ada orang seperti itu, Bhante."
Namun apakah adda orang di Uruvelakappa yang dalam peristiwa seperti itu, tidak akan timbul kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan dalam diri Anda?"
"Ada orang seperti itu, Bhante."
"Mengapa. Penghulu, terhadap sebagian orang di Uruvelakappa yang jika dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, maka akan timbul kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan dalam diri anda,sementara sehubungan dengan orang lainnya hal-hal tersebut tidak akan timbul dalam diri Anda?"
"Orang-Orang di Uruvelakappa itu, Bhante, yang jika dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, maka kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan akan timbul dalam diri saya---inilah orang-orang yang saya sayangi dan saya lekati. Namun, orang-orang di Uruvelakappa itu yang sehubungan dengan mereka hal-hal tersebut tak akan timbul dalam diri saya--- inilah orang-orang yang tidak saya sayangi dan tidak saya lekati."
"Penghulu, dengan asas yang tampak, dimengerti, langsung diperoleh, yang dipahami ini, terapkanlah cara ini terhadap masa lalu dan masa datang seperti ini:'Penderitaan apa pun yang muncul pada masa lalu, semua yang timbul berakar dari nafsu, dengan nafsu sebagai sumbernya; karena nafsu merupakan akar penderitaan. Penderitaan apa pun yang akan muncul pada masa mendatang, semua yang akan timbul berakar dari nafsu, dengan nafsu sebagai sumbernya; karena nafsu merupakan akar penderitaan."
"Mengagumkan, Bhante! Menakjubkan, Bhante! Betapa baiknya hal tersebut telah dinyatakan sang Bhagava: "Penderitaan apa pun yang muncul pada masa lalu, semua yang timbul berakar dari nafsu, dengan nafsu sebagai sumbernya; karena nafsu merupakan akar penderitaan.' Bhante, saya memiliki seorang putra yang bernama Ciravasi, yang tinggal di luar rumah. Saya bangun pagi-pagi lalu mengutus seseorang dengan berkata, 'pergilah, dan carilah kabar mengenai Ciravasi.' Sebelum semua orang itu kembali, Bhante, saya merasa cemas, dengan berpikiran, 'Aku harap Ciravasi tidak tertimpa kemalangan apa pun!"
"Bagaimana menurut Anda, Penghulu? Jika Ciravasi dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, akankah timbul kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan dalam dirimu?'
"Bhante, jika Ciravasi dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, hidup saya sekalipun akan terasa sia-sia, jadi bagaimana mungkin kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita, serta keputusasaan tidak akan timbul dalam diri saya?"
"Begitulah juga, Penghulu, bisa dipahami: ' Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya muncul  berakar dari nafsu, dengan nafsu sebagai sumbernya; karena nafsu merupakan akar penderitaan."
"Bagaimana menurut Anda, Penghulu? Sebelum Anda bertemu dengan istri Anda atau mendengar kabar mengenainya, apakah Anda memiliki nafsu, kelekatan, atau rasa sayang terhadapnya?"
"tidak, Bhante."
"Penghulu, lalu apakah hanya ketika Anda bertemu atau mendengar kabar mengenainya maka nafsu, kelekatan, dan rasa sayang muncul dalam diri Anda?"
"Benar, Bhante."
"Bagaimana menurut Anda, Penghulu? Jika istri Anda dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, akankah timbul kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita serta keputsasaan dalam diri Anda?"
"Bhante, jika istri saya dihukum, dipenjara, didenda, atau dikecam, hidup saya sekalipun akan terasa sia-sia, jadi bagaimana mungkin kesedihan, ratapan, rasa sakit, derita serta keputusasaan,tidak akan timbul dalam diri saya?"
"Begitulah juga, Penghulu, bisa dipahami; "Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya muncul berakar dari nafsu keinginan, dengan nafsu keinginan sebagai sumbernya; karena nafsu keinginan merupakan akar penderitaan."
(SN 42:11;IV 327-30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut